PERANAN PENYULUH DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN

Kegiatan penyuluhan pertanian sangat diperlukan sebagai faktor pelancar pembangunan pertanian.Lebih dari itu, dengan mengutip pendapat Hadisapoetro (1970) dalam Mardikanto (2010) yang menyatakan bahwa pelaksana-utama pembangunan pertanian pada dasarnya adalah petani-kecil yang merupakan golongan ekonomi lemah. Mardikanto (1993) dalam Mardikanto (2010) justru menilai kegiatan penyuluhan sebagai faktor-kunci keberhasilan pembangunan pertanian, karena penyuluhan selalu hadir sebagai pemicu sekaligus pemacu pembangunan pertanianDi samping itu, terkait dengan peran penyuluhan sebagai proses pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kapasitas individu, entitas dan jejaring (USAID, 1995), Mardikanto (1998) dalam Mardikanto (2010) mengemukakan beragam peran/tugas penyuluhan dalam satu kata yaitu edfikasi, yang merupakan akronim dari: edukasi, diseminasi informasi/inovasi, fasilitasi, konsultasi, supervisi, pemantauan dan evaluasi, yaitu:

1) Edukasi, yaitu untuk memfasilitasi proses belajar yang dilakukan oleh para penerima manfaat penyuluhan (beneficiaries) dan atau stakeholders pembangunan yang lainnya.
Seperti telah dikemukakan, meskipun edukasi berarti pendidikan, tetapi proses pendidikan tidak boleh menggurui apalagi memak-sakan kehendak (indoktrinasi, agitasi), melainkan harus benar-benar berlangsung sebagai proses belajar bersama yang partisi-patip dan dialogis.

2) Diseminasi Informasi/Inovasi, yaitu penyebarluasan informasi/ inovasi dari sumber informasi dan atau penggunanya.
Tentang hal ini, seringkali kegiatan penyuluhan hanya terpaku untuk lebih mengutamakan penyebaran informasi/inovasui dari pihak-luar. Tetapi, dalam proses pembangunan, informasi dari “dalam” seringkali justru lebih penting, utamanya yang terkait dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat, pengambilan keputusan kebijakan dan atau pemecahan masalah yang segera memerlukan penanganan.

3) Fasilitasi, atau pendampingan, yang lebih bersifat melayani kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan oleh client-nya.
Fungsi fasilitasi tidak harus selalu dapat mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan atau memenuhi sendiri kebutuhan-kebutuhan klien, tetapi seringkali justru hanya sebagai penengah/ mediator.

4) Konsultasi, yang tidak jauh berbeda dengan fasilitasi, yaitu membantu memecahkan masalah atau sekadar memberikan alternatif-alternatif pemecahan masalah.
Dalam melaksanakan peran konsultasi, penting untuk memberikan rujukan kepada pihak lain yang “lebih mampu” dan atau lebih kompeten untuk menanganinya. Dalam melaksanakan fungsi konsultasi, penyuluh tidak boleh hanya “menunggu” tetapi harus aktif mendatangi kliennya.

5) Supervisi, atau pembinaan. Dalam praktek, supervisi seringkali disalah-artikan sebagai kegiatan “pengawasan” atau “pemeriksaan”. Tetapi sebenarnya adalah, lebih banyak pada upaya untuk bersama-sama klien melakukan penilaian (self assesment), untuk kemudian memberikan saran alternatif perbaikan atau pemecahan masalah yang dihadapi.

6) Pemantauan, yaitu kegiatan evaluasi yang dilakukan selama proses kegiatan sedang berlangsung. Karena itu, pemantauan tidak jauh berbeda dengan supervisi. Bedanya adalah, kegiatan pemantauan lebih menonjolkan peran penilaian, sedang supervisi lebih menonjolkan peran “upaya perbaikan”.

7) Evaluasi, yaitu kegiatan pengukuran dan penilaian yang dapat dilakukan pada sebelum (formatif), selama (on-going, pemantauan) dan setelah kegiatan selesai dilakukan (sumatif, ex-post). Meskipun demikian, evaluasi seringkali hanya dilakukan setelah kegiatan selesai, untuk melihat proses hasil kegiatan (output), dan dampak (outcome) kegiatan, yang menyangkut kinerja (performance) baik teknis maupun finansialnya.

Terkait dengan hal ini, Undang Undang No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan pasal 4 merinci fungsi (peran) sistem penyuluhan sebagai berikut:

a. memfasilitasi proses pembelajaran pelaku utama dan pelaku usaha;
b. mengupayakan kemudahan akses pelaku utama dan pelaku usaha ke sumber informasi, teknologi dan sumber daya lainnya agar mereka dapat mengembangkan usahanya;
c. meningkatkan kemampuan kepemimpinan, manajerial, dan kewirausahaan pelaku utama dan pelaku usaha;
d. membantu pelaku utama dan pelaku usaha dalam menumbuhkembangkan organisasinya menjadi organisasi ekonomi yang berdaya saing tinggi, produktif, menerapkan tata kelola berusaha yang baik dan berkelanjutan;
e. membantu menganalisis dan memecahkan masalah serta merespon peluang dan tantangan yang dihadapi pelaku utama dan pelaku usaha dalam mengelola usaha;
f. menumbuhkan kesadaran pelaku utama dan pelaku usaha terhadap kelestarian fungsi lingkungan; dan

Pemamfaatan Pekarangan Rumah Untuk Kebutuhan Pangan Keluarga

Bertanam tanaman hortikultura baik sayuran maupun buah-buahandapat dilakukan di halaman yang sempit sekalipun, salah satunya adalah halamanatau pekarangan rumah.Jadi tidak ada salahnya bila kita dapat memanfaatkan lahan pekarangan kita untuk berkebun.Selain memberikan nilai tambah baik secara ekonomi maupun psikologis, tanamansayuran pun mempunyai nilai estetis sendiri bagi penataan halaman rumah.Untukmenanam sayuran dipekarangan tersebut, langkah pertamanya siapkan lahan yangada. Banyak sedikitnya tanaman yang akan dikembangkan dipekarangan disesuaikandengan luas lahan yang ada. Bila sebagian besar pekarangan belum disemen, makatentu akan memberikan ruang lebih banyak bagi areal pertanaman. Namun bilalahan yang tersisa hanya seperempat atau hanya seperdelapannya saja, dapatdigunakan pot ataupun  tempat lainseperti ember bekas, batang bambu, pipa PVC sebagai tempat media tanam.Setelahlahan dan jenis tanaman telah siap, maka dapat dipersiapkan media semai (untuktanaman yang harus disemai dahulu) dan media tanam dengan pemupukan dasar yangdisesuaikan anjuran.Pemeliharaantanaman yang meliputi penyiraman, pembersihan gulma, pemupukan susulan danlain-lain dapat dilakukan sesuai jenis tanaman karena antara satu jenis tanamandengan yang lain berbeda perlakuannya. Dengan lokasi tanam yang beradadisekitar rumah, otomatis penanganan pemeliharaan tanaman akan lebih intensif.Kegiatanpanen pun dapat dilakukan sesuai dengan umur panen masing-masing. Tanaman yangberumur pendek seyogianya segera ditanamn ulang dengan tanaman lain sehinggapekarangan kita tetap asri dan terawat.Meskipunbudidaya pekarangan  hanya dilakukandalam skala kecil dan tidak ditujukan mencari keuntungan, namun jika diusahakandengan intensif maka hasilnya dapat dipetik setiap hari untuk kebutuhansendiri.Dengan demikian, kebutuhan gizi keluarga terutama untuk sayuran segarlebih terjamin. Semoga pemanfaatan lahan pekarangan dengan tanaman sayuran inidapat diaplikasikan oleh masyarakat secara umum dalam rangka memenuhi kebutuhansayuran keluarga dan membuat rumah lebih asri.

Masalle dan Curio Jadi Lokasi Pembangunan Balai Penyuluh 2012

Pembangunan dua gedung Balai Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kabupaten Enrekang Sulawesi-Selatan di Kecamatan Masalle dan Curio segera direalisasikan, setelah sebelumnya dua gedung BP3K dirampungkan.Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Enrekang Baharuddin Santiago mengatakan, rencana tersebut bakal diwujudkan tahun ini. Estimasi anggarannya bakal menyamai dua gedung BP3K yang telah dibangun sebelumnya, yakni di Kecamatan Anggeraja dan Baroko. Jumlahnya mencapai Rp300 juta per unit.“Mudahan-mudahan dalam waktu dekat, kita sudah bisa bangun. Tapi yang jelas masih menunggu, sebab mesti melewati tahapan tender dulu, semua dana yang digunakan bersumber dari APBD,” kata Santiago di kantornya.
Read the rest of this entry

Peresmian Gedung BP3K Anggeraja & Baroko

Peresmian Gedung Balai penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan ( BP3K ) Kecamatan Anggeraja dan Baroko oleh Wakil Bupati Enrekang, H Nurhasan dilakukan di gedung BP3K Anggeraja, yang terletak di Desa Bunu, Kecamatan Anggeraja.Acara ini dihadiri pula Sekretaris Kabupaten, HM Amiruddin, Kadis Pertanian dan Perkebunan Enrekang, Baharuddin Santiago, beberapa Camat, sejumlah kepala desa serta penyuluh. Dalam sambutannya, Nurhasan mengatakan, penyuluh sebagai ujung tombak pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas produksi pertanian di daerah ini patut disokong. Baik secara emosional maupun melalui pengadaan sarana dan prasarana penyuluh. Sebab dengan begitu, kinerja penyuluh dari hari ke hari bisa lebih maksimal. Apalagi persaingan di bidang hortikultura dan agrobisnis level nasional juga semakin ketat. Peran penyuluh, kata dia sangat dibutuhkan. Terlebih kinerja mereka jelas telah memberikan efek positif bagi pertumbuhan sektor pertanian. “Secara tidak langsung penyuluh bakal berfungsi sebagai pengawas dan pemberi laporan terhadap setiap perkembangan petani di lapangan,” jelas Nurhasan kemarin. Read the rest of this entry

Profil SKPD

Penyelengaraan Kegiatan Penyuluhan pertanian, Perikanan dan kehutanan pada dasarnya ditujukan untuk merubah perilaku pelaku utama dan pelaku usaha, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap dengan suatu harapan agar mereka mau, tahu dan mampu dengan penuh penghayatannya untuk menerapkan setiap inovasi yang disuluhkan, demi meningkatkan produktivitas usahataninya, meningkatkan pendapatannya, sehingga pada akhirnya dapat mencapai kesejahteraan hidup yang lebih baik.

Pada millenium ketiga mengantarkan kita memasuki sebuah jaman baru dimana unsur – unsur peradaban dunia  akan mencapai kecepatan . Faktor eksternal penggerak perubahan yakni globalisasi, liberalisasi perdagangan dan, terobosan –terobosan baru Ilmu Pengetahuan dan Teknologi seperti, infomasi bioteknologi, dan teknologi  industri akan berubah dinamika setiap dimensi kehidupan dan peradaban kita. Perubahan-perubahan tersebut secara partisipasi dapat dipandang antara lain  sebagai peluang kerja dan peluang usaha yang ditawarkan dangan sangat kompetetif.

Tantangan yang dihadapi dalam pembagunan pertanian dewasa ini  adalah bagaimana menempatkan pola perilaku yang khas dari masyarakat tani nelayan yang mampu dalam memanfaatkan  sumberdaya yang tersedia secara optimal dalam dimensi waktu, wilayah, tata laksana dan sistem agribisnis.

Bertitik tolak dari kondisi tersebut diatas, maka sudah menjadi tugas Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan untuk menjabarkan kepentingan, harapan dan tantangan yang dihadapi oleh petani nelayan ke dalam suatu sistem kerja dan tata hubungan yang komperehensip, dinamis dan bertahap tanpa meninggalkan etika Penyuluhan sebagai upaya untuk mendirikan petani nelayan beserta keluarganya.

Pada saat  penyuluhan diharapkan dengan muatan program pembagunan maka jelas diperlukan daya suatu simpul koordinasi berdasarkan strata agroekosistem yang khas dan berinteraksi dengan berbagai kepentingan percapaian program wilayah, sekaligus mampu mengakomodasikan kepentingan percapaian program wilayah, sekaligus mampu mengakomodasi kepentingan Kabupaten Enrekang sebagai wilayah daerah Agropolitan yang tangguh, berwawasan agribisnis, ramah lingkungan dan religius pada tahun 2013.

Simpul koordinasi secara operasional mampu menyentuh berbagai kepentingan dalam proses pemberdayaan pelaku utama dan pelaku usaha di dalam sistem penyuluhan di akomodasikan dalam suatu kegiatan yang disebut dengan programa penyuluhan.

Program tersebut dilaksanakan melalui usaha-usaha diversifikasi, intensifikasi, ekstensifikasi, rehabilitasi, serta penangan pasca panen. Sehingga peranan penyuluhan mempunyai kedudukan yang strategis dengan mandatnya sebagai penyelenggaraan pendidikan luar sekolah (non formal) bagi petani/nelayan beserta keluarga dan anggota masyarakat lainnya.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka untuk membangun kemampuan prakarsa, tanggung jawab serta partisipasif, terpadu, transparan, demokratis dan bertanggung gugat masyarakat tani/nelayan dalam pembangunan pertanian yang terencana dan terukur adalah terwujudnya programa penyuluhan yang tersusun di setiap tingkat wilayah .